Wednesday, December 12, 2012

Makalah Administrasi Pendidikan: Pengorganisasian


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pengorganisasian merupakan proses menyusun organisasi formal dengan melakukan aktivitas merancang struktur, menganalisis pekerjaan, mengelompokan dan membagikan pekerjaan, mengkoordinasikan pekerjaan serta memantau pelaksanaan pekerjaan. Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang pengorganisasian, proses pengorganisasian, dan unsur yang membangun organisasi.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud Pengorganisasian?

2.      Bagaimana Proses Pengorganisasian?

3.      Unsur apa sajakah yang Membangun Organisasi?

4.      Apa yang dimaksud dengan Wewenang dan Kekuasaan?

5.      Apa yang dimaksud dengan Desentralisasi dan Sentralisasi?


C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk Mengetahui maksud dari Pengorganisasian.

2.      Untuk Mengetahui Proses Pengorganisasian.

3.      Untuk Mengetahui Unsur yang Membangun Organisasi.

4.      Untuk Mengetahui  maksud dari Wewenang dan Kekuasaan.

5.      Untuk Mengetahui maksud dari Desentralisasi dan Sentralisasi.



BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pengorganisasian

Istilah pengorganisasian mempunyai dua pengertian umum. Pertama, organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintan. Kedua, merujuk kepada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistemkerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam system kerjasama secara jelas diatur siapa menjalankan apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus komunikasi, dan memfokuskan sumberdaya pada tujuan.

Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang-orang yang sesuaidengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektifitas pencapaian tujuan organisasi.

B.     Proses Pengorganisasian

Ernest Dale (Stoner, 1986) memberikan pengorganisasian sebagai sebuah proses yang berlangkah jamak. Proses pengorganisasian tersebut digambarkan sebagai berikut.

tahap pertama,yang harus dilakukan dalam merinci pekerjaan adalah menentukan tugas-tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.

Tahap kedua, membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perseorangan atau perkelompok.

Tahap ketiga, menggabungkan pekerjaan para anggota dengan cara rasional dan efisien.

Tahap keempat, menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam satu kesatuan yang harmonis.

Tahap kelima, melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankandan meningkatkan efektifitas. Karena pengorganisasian merupakan suatu proses yang berkelanjutan, diperlukan penilaian ulang terhadap keempat langkah sebelumnya secara terprogram/berkala, untuk menjamin konsistensi, efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan.

C.    Struktur Organisasi

Menurut E. Kast dan Jamis E. Rrosenzweig (1974) struktur diartikan sebagai pola hubungan komponen atau bagian suatu organisasi. Struktur merupakan system formal hubungan kerja yang membagi dan mengkoordinasikan tugas orang dan kelompok agar tercapai tujuan. Menurut Simon (1958) struktur itu sifatnya relative stabil, statis dan berubah lambat atau memerlukan waktu untuk penyesuaian-penyesuaian.

Pada struktur organisasi tergambar posisi kerja, pembagian kerja, jenis kerja yang harus dilakukan, hubungan atasan dan bawahan,kelompok, komponen atau bagian, tingkat manajemen dan saluran komunikasi.menurut stoner, (1986) struktur organisasi dibangun oleh lima unsur, yaitu:

1.       Spesialisasi aktifitas, unsur ini mengacu pada spesifikasi tugas perorangan dan kelompok diseluruh irganisasi atau pembagian kerja dan penyatuan tugas tersebut ke dalam unit kerja (departementalisasi)

2.      Standar aktifitas, unsur ini merupakan prosedur yang digunakan organisasi untuk menjamin kelayak gunaan aktifitas.

3.      Koordinasi aktifitas, unsur ini adalah prosedur yang memadukan fungsi-fungsi dalam organisasi, seperti fungsi primer dalam suatu badan usaha, memasaran, produksi dan penjualan merupakan fungsi garis yang secara langsung menyumbang pada pencapaian tujuan organisasi memerlukan koordinasi.

4.      Sentralisasi dan desentralisasi pengambilan keputusa, unsur ini mengacu pada lokasi kekuasaan pengambilan keputusan. Sentralisasi adalah proses konsentrasi wewenang dan pengambilan keputusan pada tingkat atas suatu organisasi.  Kelemahan system ini bawahan menjadi tidak berkembang dan putusan menyita waktu yang lama, terlebih jika data ada pada bawahan. Desentralisasi vertical adalah pembagian wewenang formal berdasarkan garis komando (dari atas ke bawah). Sedang desentralisasi horizontal adalah wewenang bertindak tidak secara hierarki melainkan bergantung pada keahlian (wewenang fungsional)

5.      Ukuran unit kerja, unsur ini mengacu pada jumlah pegawaidalam suatu kelompok kerja.


D.    Wewenang dan Kekuasaan

Wewenang merupakan hak kelembagaan menggunakan kekuasaan. Ini didasarkan pada pengakuan keabsahan upaya untuk mempengaruhi.  Perorangan atau kelompok yang berupaya mempengaruhi untuk mempengaruhi dipandang mempunyai hak, untuk itu ada batas-batas yang diakui.

Menurut newman (sukanto, R. 1990) wewenang itu dapat dibedakan menjadi :

1.      Wewenang hukum, yaitu wewenang yang dimiliki seseorang untuk menegakkan hukum, mewakili dan bertindak atas nama organisasi.

2.      Wewenang teknis, yaitu seorang dianggap pakar tentang sesuatu hal.

3.      Wewenang berkuasa, yaitu sumber utama yang hak melakukan tindakan.

4.      Wewenang operasional, yaitu seseorang diperbolehkan melakukan tindakan tertentu.

Wewenang tidak sama dengan kekuasaan.kekuasaan dalam arti sebenarnya adalah kekuatan untuk mengendalikan orang lain sehingga orang lain sama sekali tidak punya pilihan, karena tidak berdaya untuk mentukan diri sendiri atau tidak mengetahui bagaimana memperoleh sumber daya yang mereka perlukan. Kekuasaan tidak hanya diperoleh semata-mata dari bermacam-macam jenis psikologi kekuasaan (Edgar H. Schein, 1980) yaitu:

1.      Kekuasaan yang memaksa(coercive power), yaitu didasarkan pada kemampuan pemberi pengaruh untuk menghukum penerima pengaruh jika tidak memenuhi permintaan.

2.      Kekuasaan imbalan (reward power), yaitu didasarkan pada kemampuan untuk member imbalan kepada orang lain.

3.      Kekuasaan jabatan/sah (legitimate power), berhubungan dengan hak kelembagaan, terjadi apabila bawahan menerima pengaruh mengakui bahwa atasan secara sah berhak untuk memrintah atau member pengaruh dalam batas-batas tertentu.

4.      Kekuasaan ahli (expert power), didasarkan pada keyakinan bahwa pemberi pengaruh mempunyai keahlian yang relevan dan tidak dimiliki oleh penerima pengaruh.

5.      Kekuasaan acuan(referent power), berpijak pada keinginan penerima pengaruh untuk meniru pemberi pengaruh.

6.      Kekuasaan pribadi (personality power), berpijak pada kualitas pribadi yang member pengaruh, misalnya charisma-magis pimpinan seperti JF Kennedy mendapat tanggapan besar dari pengikut.

Pendelegasian wewenang

Delegasi dapat didefinisikan sebagai pelimpahan wewenang formal dan tanggung jawab pada seseorang atas pelaksanaan aktifitas tertentu. Biasanya pendelegasian di tunjang oleh unsur motivasi dan komunikasi yang baik untuk membantu pimpinan melaksanakan tugas pokoknya. Tujuan utama pendelegasian adalah agar organisasi dapat menggunakan sumber dayanya secara efisien.

Agar pendelegasian itu berlangsung efektif para anggota organisasi harus tahu dimana mereka berada dalam rantai komando. Jika tidak, mereka tidak dapat menerima dan tidak pula menyerahkan tanggung jawab secara meyakinkan. Dalam hal ini diperlukan prinsip scalar yaitu ada satu baris wewenang yang jelas. Prinsip scalar ini bertujuan untuk memudahkan setiap anggota organisasi memahami: (1)Kepada siapa dia mendelegasikan. (2)Siapa yang dapat mendelegasikan wewenang kepadanya. (3)Kepada siapa dia bertanggung jawab. Persyaratkan dalam menetapkan garis wewenang diperlukan kelengkapan delegasi. Artinya semua tugas harus didelegasikan karena tugas-tugas nya tidak diserahkan akan menimbulkan kesenggangan atau masalah.

Delegasi wewenang adalah proses dimana para manajer mengalokasikan wewenang ke bawah kepada orang-orang yang melapor kepadanya. Empatkegiatan terjadi ketika delegasi dilakukan:

1.      Pendelegasi menetapkan dan memberikan tujuan dan tugas kepada bawahan.

2.      Pendelegasi melimpahkan wewenang yang di perlukan untuk mencapai tujuanatau tugas.

3.      Penerimaan delegasi, baik implisit atau eksplisit, menimbulkan kewajiban atautanggung jawab.

4.      Pendelegasi menerima pertanggungjawaban bawahan untuk hasil-hasil yangdicapai



E.     Desentralisasi dan Sentralisasi

1.      Desentralisasi

Desentralisasi adalah pendelegasian wewenang dalam membuat keputusandan kebijakan kepada manajer atau orang-orang yang berada pada level bawahdalam suatu struktur organisasi. Pada saat sekarang ini banyak perusahaan atauorganisasi yang memilih serta menerapkan sistem desentralisasi karena dapatmemperbaiki serta meningkatkan efektifitas dan produktifitas suatu organisasi.

2.      Sentralisasi

Sentralisasi adalah memusatkan seluruh wewenang kepada sejumlah kecilmanajer atau yang berada di posisi puncak pada suatu struktur organisasi.Sentralisasi banyak digunakan pada pemerintahan lama diIndonesiasebelumadanya otonomi daerah.

Secara teoritis, sentralisasi memiliki keunggulan. Keunggulannya adalah:

a.       Organisasi menjadi lebih ramping dan efisien. Seluruh aktivitasorganisasi terpusat sehingga pengambilan keputusan lebih mudah.

b.      Perencanaan dan pengembangan organisasi lebih terintegrasi.Tidak perlu jenjang koordinasi yang terlalu jauh antara unit pengambilankeputusan dan yang akan melaksanakan atau terpengaruh oleh pengambilan keputusan tersebut.

c.       Peningkatan resource sharing dan sinergi. Sumberdaya dapatdikelola secara lebih efisien karena dilakukan secara terpusat.

d.      Pengurangan Redundancies aset dan fasilitas lain. Satu aset dapatdipergunakan secara bersama-sama tanpa harus menyediakan aset yangsama untuk pekerjaan yang berbeda-beda.

e.       Perbaikan koordinasi. Koordinasi menjadi lebih mudah karenaadanyaunity of command.

f.       Pemusatan expertise. Keahlian dari anggota organisasi dapatdimanfaatkan secara maksimal karena pimpinan dapat memberi wewenang

 Kelemahan sentralisasi adalah:

a.       Kemungkinan penurunan kecepatan pengambilan keputusan dan kualitaskeputusan. Pengambilan keputusan dengan pendekatan sentralisasiseringkali tidak mempertimbangkan faktor-faktor yang sekiranya berpengaruh terhadap pengambilan keputusan tersebut.

b.      Demotivasi dan disinsentif bagi pengembangan unit organisasi. Anggotaorganisasi sulit mengembangkan potensi dirinya karena tidak ada wahanadan dominasi pimpinan yang terlalu tinggi.

c.       Penurunan kecepatan untuk merespon perubahan lingkungan. Organisasisangat bergantung pada daya respon sekelompok orang saja.

d.      Peningkatan kompleksitas pengelolaan. Pengelolaan organisasi akansemakin rumit karena banyaknya masalah pada level uniit organisasi yangdi bawah.

e.       Perspektif luas, tetapi kurang mendalam. Pimpinan organisasi akanmengambil keputusan berdasarkan perspektif organisasi secarakeseluruhan tapi tidak atau jarang mempertimbangkan implementasinyaakan seperti apa.

Konsep desentralisasi memiliki keunggulan. Keunggulan Desentralisasiadalah:

a.       Jenjang manajemen lebih sedikit ( flat ).

b.      Birokrasi berkurang. Pengambilan keputusan akan berada pada unit yangsekaligus melaksanakan.

c.       Lebih responsif terhadap perubahan. Unit organisasi akan lebih mudahmenghadapi situasi terkini karena pengambilan keputusan ada pada unitdesentralisasian.

d.      Lebih mendorong kreativitas dan pengembangan ide baru. Unit-unitorganisasi yang ada akan berupaya mengembangkan potensi dirinya.

e.       Motivasi karyawan lebih tinggi. Anggota organisasi akan mempunyai rasamemiliki organisasi yang tinggi dan termotivasi untuk mengembangkandan meningkatkan kinerja unit organisasinya.

f.       Keterlibatan karyawan lebih besar. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa partisipasi yang lebih tinggi akan meningkatkan kinerja organisasi.

g.      Kapabilitas organisasional meningkat. Kecakapan organisasi akan lebihmeningkat karena tersedianya sumber daya manusia yang terlatih danteruji dalam memimpin organisasi.

Kelemahan desentralisasi:

a.       Manajer pada tingkat yang lebih rendah dapatmembuat keputusan yang tidak sejalan dengan strategi umum perusahaan.

b.      Dapat terjadi kurangnya koordinasi antar manajer.

c.       Manajer pada level yang lebih rendah mungkinmemiliki tujuan yang berbeda dari tujuan perusahaan secara keseluruhan.

d.      Dalam organisasi terdesentralisasi, agak sulit untuk menyebarkan gagasan inovatif secara efektif.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Istilah pengorganisasian mempunyai dua pengertian umum. Pertama, organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintan. Kedua, merujuk kepada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistemkerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam system kerjasama secara jelas diatur siapa menjalankan apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus komunikasi, dan memfokuskan sumberdaya pada tujuan. Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang-orang yang sesuaidengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektifitas pencapaian tujuan organisasi.

DAFTAR PUSTAKA


Fattah, Nanang. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

0 comments:

Post a Comment